.

Jumaat, 5 April 2013

Syair Jahili : Zuhair Bin Abi Sulma


                                                                                         
Zuhair Bin Abi Sulma
“Dia (zuhair) perkataannya tidak berkepanjangan bagai agam, menghindari penggunaan kata-kata kasar, dan hanya memuji yang patut dipuji...” (Umar Bin Khatab)

Prolog
Disiplin ilmu tidak akan terlepas dari sejarah. Dewasa ini, beragam sains yang berkembang juga banyak merujuk ke masa lalu. Dengan demikian, sejarah sering dijadikan titik tolak dalam mendalami  terutama menguasai bidang tertentu. Menekuni sejarah berarti mempelajari kebudayaan suatu bangsa pada zaman tertentu dengan lingkup sosial yang mempengaruhi.  Maka untuk menelisik sejarah bangsa arab, kita harus merujuk pada peninggalan dari zaman tersebut baik berupa prasasti atau riwayat.

Diantara komponen yang paling berpengaruh adalah syair. Bahkan para ulama sepakat, bahkan seorang peneliti tidak akan mampu mengeksplorasi keadaan pada masa jahiliyah selama ia tidak mampu memahami syair. Demikian, syair adalah replika kehidupan yang paling apik  daripada prasasti lainnya. Syair terlahir sebagai karya seni, layaknya karya seni lainnya tidak hanya dinilai dari ‘bungkus’ . Abu Muhamad al-Jamahi,  menganalogikan essensi syair dengan permata, nilai jual yang dihasilkan bukan didapatkan dari bentuk luarnya saja tapi dari unsur-unsur yang dikandung permata tersebut. [2]

 Masa Jahiliyah terbagi menjadi dua bagian: jahiliyah pertama, yaitu fase prasejarah sampai 5M, dan jahiliyah kedua, yaitu abad ke 6-7 M atau dua abad sebelum nabi Muhamad diutus. Masa jahiiyah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah masa jahiliyah kedua. Demikian karna peradaban pada masa pertama belum bisa dijangkau. Bangsa arab juga dibagi menjadi dua bagian : bangsa Arab utara dan bangsa Arab selatan. Bangsa Arab utara merupakan keturunan Ismail bin Ibrahim AS yang umumnya disebut dengan kaum Adnan. sedangkan bangsa Arab selatan atau yang bermukim di Yaman, keturunan bani Qahthan. Dari kedua bagian inti ini kembali terpecah dalam beberapa kabilah. [3]

A.     Nasab dan Keluarganya
Memahami kehidupan penyair adalah jalan utama untuk memahami syair. Demikian karna tradisi bangsa Arab ketika itu, menggambarkan sesuatu yang ada disekitarnya. Tak ayal, lingkungan mereka hidup banyak mempengaruhi kelahiran syair. Faktor keluarga terutama. Bahkan penyair dianggap ‘anak zaman’ ; melukiskan keadaan hidup di zamannya. Selain itu, syair juga senjata ampuh suatu kabilah, dan melawan musuh mereka sebagai pertahanan dari umpatan musuh hingga untuk memuliakan ras mereka. Dengan demikian, pesta yang mereka gelar pada saat kelahiran penyair menjadi maklum adanya. Ungkapan kegembiraan dengan kelahiran pahlawan yang akan membela kaumnya, dengan senjata yang paling berbahaya, yaitu lisan.

Zuhair bin Rabi’ah bin  Rayyah bin Qurah bin Harits bin Muzanni bin Tsa’labah bin Tsaur bin Harmah bin Ashom bin Utsman bin Amru bin Udda bin Thabihah bin Ilyas[4] bin Mudhol bin Nizar bin Ma’adi bin Adnan.[5] Rabi’ah menikah dengan wanita dari bani Suhaim dan masih mempunyai ikatan nasab dengan bani Fahr bin Murah bin Auf bin Sa’ad bin Dzibyan. Zuhair terlahir di tengah kabilah bani Mazinah  yang bermukim disekitar Madinah.  Mazinah diambil dari nama salah seorang puteri dari Kalb bin Wabrah  dan ibu dari Amru bin Udd.

Meski terlahir ditengah kabilah bani Mazinah tapi Zuhair tumbuh, ia besar dipemukiman bani Abdullah bin Ghatafan di daerah Najd. Hal Demikian terjadi karena perselisihan keluarga dengan pamannya As’ad bin Ghadir bin Murah bin Auf bin Saad bin Dzibyan. Berawal ketika Rabiah, As’ad dan puteranya Ka’ab bin As’ad kembali dari peperangan melawan kabilah Tha’i dengan membawa pulang banyak harta. Rabiah meminta bagian untuk keluarganya, As’ad mengaabaikannya. Bahkan dengan kejam memaksa mereka mereka untuk pergi dengan hanya menaiki satu kedelai saja. Intimidasi yang dilakukan As’ad bin Ghadir adalah pemicu utama yang membuat Rabiah beserta keluarganya meninggalkan bani Mazinah dan bermukim dengan bani Ghatafan. [6]

Rabi’ah tidak berumur panjang dan meninggal sebelum Zuhair lahir. Meninggalkan asuhan Zuhair beserta kedua saudaranya : Sulma dan Khansa, kepada pamannya Basyamah bin Ghadir. Seorang yang terpandang dikaumnya. Setiap tindakan yang akan dilakukan oleh kaumnya selalu meminta pertimbangan darinya.  Pasca wafat Rabi’ah, ibunya menikah dengan Aus bin Hajar, seorang panyair arab yang terkenal dari bani Tamim.
Basyamah dan Aus bin Hajar banyak berpengaruh dalam perkembangan Zuhair dalam syairnya. Ia melihat pamannya sangat mendalami syair, dan terpicu untuk mempelajari syair darinya. Dengan meriwayatkan syair dari Aus, ia sedikit banyak terpengaruh dari syairnya. Selain Basyamah dan Aus, ia juga berguru pada Thufail al-Ghanawi, yang terkenal dengan syair-syair deskriptif etik, yang melukiskan keadaan sekitarnya, baik hewan atau tempat. Darinya Zuhair mempelajari keindahan sastra, ‘penjernihan’ deskripsi dan juga seni mengolah kata.[7]

Basyamah yang tidak mempunyai  anak.  Sebelum ia wafat, ia membagikan kekayaannya pada seluruh keluarga besarnya. Ketika Zuhair menghampirinya, ia mewasiatkannya tentang warisan yang ia tinggalkan untuk zuhair yang menurutnya lebih penting dari harta yaitu syair.Selain syair, ia juga mewarisi beberapa sifat dari pamannya. Kesabaran, kerendahan hati hingga bijaksana. Sifat-sifat tersebut tentu membuatnya mewarisi kemuliaan sebagaimana yang dilakukan pamannya. Sifatnya yang dermawan semakin membuat kaumnya segan kepadanya.

Sebelum terkenal sebagai seorang penyair, zuhair mengalami goncangan kepercayaan diri dalam hidupnya. Zuhair bahkan sempat bertanya-tanya ke pamannya, kenapa ia mempercayakan dirinya untuk menjadi penyair, demikian karna ia mewarisi kemampuan dari pendahulunya di kabilah Bani Muzaynah[8]. Keadaan keluarga Zuhair yang tidak bisa ditemukan pada kabilah lainnya. Kehidupannya selalu dikelilingi syair. Ayahnya,Rabiah bin Rayyah, adalah penyair.  Pamannya,Basyamah bin Ghadir, juga penyair. Ayah tirinya, Aus bin Hajar, penyair bani Tamim. Kedua saudaranya,Khansa dan Sulma, penyair.Anaknya, Kaab dan Bujair bin Zuhair, penyair islam yang mashur dengan kasidahnya. Hingga cucunya Aqobah bin Ka’ab juga penyair.  Demikian seolah syair adalah bagian inti dari keluarga. Selalu diwarisi disetiap generasi.

B. Kilas pandang Bahasa Arab
Bahasa adalah rangkaian kata yang digunakan untuk  mengungkapkan suatu keinginan. Dalam hal ini bahasa adalah kebutuhan pokok dalam berinteraksi di masyarakat. Oleh karena demikian, manusia menjadi lakon utama dalam penyebaran hingga perkembangan bahasa. Merujuk ke beberapa abad sebelum masehi, bahasa yang ada pada saat itu tentu berbeda dengan yang berkembang saat ini. Bila ditabrakan dengan kode etik yang berlaku, segala sesuatu bermula dari hal yang paling  sederhana hingga terus berkembang.

Bahasa yang berkembang saat ini merujuk kepada dua kaum yang telah menyebar pada saat itu yaitu: kaum ariyah atau yafidziyah dan kaum Samiyah. Kaum Yafidziyah dinisbatkan ke Yafidz bin Nuh AS, dan terbagi menjadi 2 bagian : bagian utara yang meliputi Eropa dan bagian Selatan yang meliputi Asia Selatan yaitu sangsakerta dan hindi. Adapun kaum Samiyah dinisbatkan ke Sam bin Nuh AS, dan  terbagi menjadi 3  bagian :  Bahasa Arami, digunakan kaum Suryani dan Kildani dan disebut-sebut sebagai bahasa yang digunakan dalam penulisan bibel lama. Bahasa Ibrani, yang digunakan dalam perjanjian lama. [9]

Bahasa Arab, perkembangannya di jazirah Arab hingga kedatangan islam dan ekspansi yang juga berperan dalam penyebaran bahasa arab. Hubungan antara tiga bahasa ini ditunjukan dalam perjanjian lama yang mengunakan bahasa Ibrani tetapi memiliki banyak persamaan dengan bahasa Arami dan Arab. Selain perjanjian lama, bukti lainnya adalah  Bani Israel yang mengembara selama 40 tahun di jazirah arab mereka berinteraksi dengan masyarakat tanpa perantara penerjemah atau mediator begitupun halnya dengan komunikasi yang terjalin antara  ratu Saba’  dan  Sulaiman Bin Daud AS.

Pembahasan perihal ontologi bahasa  tentu membahas keadaan masyarakat dan struktur bahasa yang berkembang pada zamannya, dan dalam masalah ini penulis mengklasikasikan eksplorasinya dalam beberapa problematika -yang berhubungan dengan stuktur yang berkembang diantara bangsa Arab itu sendiri- dengan pendekatan fonetik, gramatikal dan vokabularis. Tiga hal tersebut merupakan tiga unsur yang paling berpengaruh dalam standardisir linguistik[10]. Oleh karena demikian penulis memaparkan 5 problematika yang mewakili :

a.       Vokabularis  yang mempunyai kedekatan huruf dan makna sejatinya berasal dari satu kata yang mengalami beberapa perubahan, hal ini disandarkan kepada dua bagian dari sintaksis bahasa Arab yakni al ibdal dan al qlab. Al Ibdal adalah pergantian huruf dalam tatanan kata contoh : bataka dan basyaka, battsa dan bassya , nabaja dan nabaha . Al qalb adalah pergeseran posisi dalam tatanan kata, sampel : lathama dan lamatha, jadzaba dan jabadza, sakaba dan sabaka tidak ada perubahan huruf disini tetapi hanya perubahan posisi  kata pada huruf kedua dan ketiga dan sedikit terjadi pada huruf pertama.

b.      Vokabularis  yang  menunjukan makna benda lainnya merupakan bentuk penyederhanaan.  Kata yang dimaksud  adalah huruf dalam afiks dan konfiks, yang tidak mempunyai makna sendiri tapi memberikan perubahan makna bila ia disatukan dengan kata. Dalam hal ini problematika yang kedua tidak banyak memasuki ranah bahasa Arab yang tertulis tapi banyak memasuki ranah lisan, melihat beberapa tujuan  yang diberikan seperti penyederhanaan kata dan menyingkatkan waktu dalam pengucapannya, sampel : ambakul  yang bermaksud akhudzu fi al-akli ala istimrar.

c.       Vocabularis yang menganduk makna individual  terbentuk dari dua fona.  Kaedah tersebut diambil penulis dengan mengeksplorasi kata kerja dan beberapa kata yang menyerap dari bahasa lainnya. Diantara contohnya adalah kata : qathaba, qathafa, qatha’a, qathama, qatala semua kata tersebut berasal dari dari dua fona yakni qhata dan  semuanya mempunyai arti yang sama secara global yakni memotong. Sedang demikian halnya dengan kata yang merupakan penyerapan dari bahasa lainnya seperti : falsafa yang diserap dari bahasa yunani philosofia yang terdiri dari philia yang berarti kecintaan, kegemaran dan sofia yang berarti bijaksana.

d.      Seluruh Vokabularis dapat dirujukan pembentukannya dari satu fona. Untuk menjelaskan permasalahan ini penulis mengambil kata penghubung dan pronominal sebagai sampel penjelasan. Seperti halnya pada kata anta, anti, antuma, antum, antunna berasal dari satu fona yaitu huruf ta, dan huwa, hiya, huma, hum, hunna, berasal dari huruf ha, begitupun yang terjadi pada ismu isyarah seluruhnya berasal dari huruf dza.


e.      Sense Organ merupakan pemaknaan murni dari rangkaian kata adapun makna yang tersirat terbentuk darinya. Pemaknaan yang dihasilkan dari rangkaian kata terbagi menjadi dua yaitu makna yang tersirat dan tersurat, sesuai dengan kaedah diatas penulis meyakini bahwa makna sesungguhnya adalah makna yang tersurat adapun makna yang tersirat adalah cabang dan bagian dari makna yang tersurat tersebut. Contoh : ru’yah yang dapat diartikan sebagai penglihatan panca indera(mata) atau mimpi  maka dalam hal ini penglihatan panca indera  merupakan makna asli dari ru’yah.[11]

Dari ulasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa bahasa Arab terbentuk dari huruf-huruf sederhana dan penggalan kata-kata yang berkembang hingga memberi makna yang beragam, dan bahasa terlahir dari perbincangan yang merupakan bentuk interaksi dan komunikasi, sedangkan dalam proses interaksi ini manusia mengalami beberapa fase sebelum benar-benar mengucapkan kata seperti sekarang ini diantara fase yang dilalui manusia  adalah : fase pra pengucapan kata dan fase pengucapan kata, dalam fase pertama manusia menggunakan isyarat sebagai alat komunikasi lalu berkembang ke fase fonem  sebelum memulai fase pengucapan kata.

 Hal ini juga selaras dengan yang diutarakan Mariobay dalam bukunya Ususu Ilmu Lughah yang diterjemahkan oleh Ahmad Mukhtar Umar, dalam bukunya beliau menjelaskan kendati  kita tidak dapat menjangkau kepastian permulaan dan bagaimana bentuk gambaran kalimat yang diucapkan pertama kali akan tetapi tidak dapat dipungkiri urgensi komunikasi antara masyarakat dalam hal ini tentu mengalami fase, diantaranya adalah fase yang disebutkan sebelumnya.

Tradisi Bangsa Arab yang selalu berpindah-pindah, merupakan salah satu mediator penyebaran bahasa. Tradisi ini didorong oleh keadaan: gurun pasir yang tandus menyebabkan mereka harus bersahabat dengan alam. Tabiat bangsa arab yang keras bahkan sering perang, hasil peperangan yang dijadikan sandra bahkan diperbudak, tentu menjadi sarana penyebarannya. Selain itu,  perniagaan yang rutin mereka adakan membuat pasar menjadi medan pertemuan dan akulturasi budaya. Selain mekah, pasar adalah medan utama perkumpulan kabilah-kabilah arab.[12] Selain pedagang, penyair menghidupkan suasana pasar dengan beragam syairnya. Baik berupa pujian, ratapan, bahkan hinaan.

C.      Zuhair dan syairnya.
Syair yang kita pelajari sejatinya memiliki 4 substansi inti. Sebagai fakta sejarah, kehidupan masa lalu tentu tidak hanya berisi hal-hal yang baik tapi juga peristiwa pahit. Selain itu, syair juga dianggap sebagai dalil; yang menguatkan suatu argumen atau menolaknya. Demikian kehidupan bangsa arab pada zaman jahiliyah dapat ditangkap dalam syair-syair peninggalanannya. Sejatinya syair tersebut tidak sesempit yang kita terima sekarang. Beribu-ribu syair pada zaman jahiliyah hilang tertelan masa. Eksistensi penyair dan kehebatannya ditentukan oleh syairnya. Begitupun sebaliknya, eksistensi syair yang dikodifikasi karna kemasyhuran empunya. Dua simbiosis mutualisme yang merekat sepanjang sejarah.

Jahidz mengklasifikasi keunggulan penyair kedalam 4 bagian : golongan pertama penyair elite, penyair semi elite, penyair biasa, dan semi penyair.  Yang dimaksudkan dalam golongan pertama  dan kedua adalah para tokoh yang masyhur dikabilah arab. Hal yang membedakan keduanya adalah  golongan pertama meriwayatkan syair sedang yang kedua mengumpulkan syair.[13]

Beberapa ulama meneliti pembentukan syair pada mulanya hingga perkembangannnya yang tematik. Bangsa arab yang mengembangkan bahasa arab dalam bentuk prosa. Dari hanya sekedar perbincangan atau catatan biasa kemudian kembali diolah menjadi sebuah bentuk sajak bebas yang simpel. Keindahan irama yang dilanturkan menarik perhatian masyarakat. Respon yang demikian kemudian memicu untuk mempelajari dan mengembangkannya hingga kemudian terbentuklah sajak awamatro. Perkembangannya kemudian tidak hanya sampai disitu saja, pemerhati syair kembali berlomba-lomba untuk mengembangkannya dan menciptakan hal-hal yang baru hingga lahirlah kasidah-kasidah.

Hingga pada abad ke 5 masehi muncullah syair-syair yang saat itu sudah mulai disusun dalam tema-tema tertentu. Diantara tema tersebut adalah:  pujian, rintihan, heroik, dan hinaan. Syair dapat digolongkan kedalam 3 jenis: syair liris, historis dan dramatik.[14] Meski syair dibentuk dan disusun, tapi unsur perasaan dan intuisi adalah titik tolak dari penyair di zaman jahiliya. Seperti halnya, Khansa’,  seorang penyair jahiliyah, yang terkenal dengan syair-syair  lirisnya. Syair-syair yang disusunnya selalu berupa sebuah rintihan. Hal demikian karena ia kedua saudaranya yang wafat dalam peperangan. Sebelumnya, Khansa hanyalah wanita biasa di kabilahnya. Pasca wafat saudaranya ia mengucakan 2 bait syair sebagai ungkapan rintihan atas apa yang dialaminya. Kabilahnya seakan menemukan harta karun yang terpendam. Dari basis inilah syairnya kemudian berkembang, tapi seluruh syairnya tidak bisa terlepas dari rintihan dan ratapan. Khansa kemudian terkenal dengan syair lirisnya sebelum ia masuk islam.

Sedangkan keadaan Zuhair yang tumbuh dikeluarga penyair merupakan sarana yang memfasilitasi untuk mendalami syair. Bahkan ketika ia bertanya kepada pamannya kenapa ia harus menjadi seorang penyair, sang paman , Basyamah, menjawab karna kamu mewarisinya dari bani Muzaynah. [15]Syair bukanlah harta ataupun materi, warisan yang dimaksud adalah kemampuan dan basis-basis yang harus dikembangkan Zuhair.

Basyamah, sebagai seoarang tokoh yang terkenal dalam kabilahnya, bahkan pemuka kaumnya selalu meminta pendapatnya terutama ketika hendak berperang.Dengan demikian, ia selalu menghasilakan materi yang sama besarnya dengan pemuka kaumnya yang ikut dalam berperang. Sifatnya yang bijak dan dermawan, membuat pengolahan harta tersebut berarti, jauh dari foya-foya. Sifat-sifat demikian juga diwarisi zuhair yang menghiasi syair-syairnya. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu ulama sebagai al-Mu’alaqat.
Selain ibunya, dua wanita lain yang mempengaruhi syair yang disusunnya adalah ummu aufa dan ummu kabasyah.

 Ummu aufa adalah wanita pertama yang mendampinginya, bahkan namanya menjadi kata pertama dalam pembukaan syairnya yang terkenal. Darinya Zuhair memiliki beberapa anak akan tetapi semuanya meninggal, lalu ia menceraikannya. Meski akhirnya ia menyesali perceraian tersebut, tetapi ummu aufa menolak untuk kembali kesisinya. Sedangkan wanita kedua yang ia nikahi adalah Kabasyah, dari bani Ghatafan.

 Pernikahannya kali ini memberikannya  3 putera: Ka’ab, Bujair dan Salim, ketiganya adalah penyair. Bahkan kasidah Ka’ab yang memuji nabi  selalu diriwayatkan hingga dibukukan.
Selain anak-anak kandungnya, ia juga memiliki seorang murid yaitu Khatiyah. Selain seorang penyair, ia juga ahli riwayat. Khatiyah meriwayat syairnya dan juga penyair dizamannya. Ia mengajari mereka untuk membaca dan memahami syair, hingga pada akhirnya mereka mampu untuk mandiri. Ketika  meminta mereka untuk memahami dan membacakan syair,sebenarnyanya ketika itu ia sedang menguji kemampuan mereka.  [16]


Zuhair memiliki karakteristik yang tidak pernah dimiliki penyair sebelum ataupun sesudahnya, yaitu ia menggunakan waktu satu tahun untuk menghasilkan satu kasidah, hingga akhirnya kasidah tersebut terkenal dengan nama al-hauliyat.[17] Ulama berbeda pendapat tentang jumlah al-hauliyat yang dihasilkan Zuhair, beberapa mengatakan 4 dan sebagian yang lain 7. Diantara al-hauliyat tersebut bercerita tentang perdamaian yang terjadi diantara bani Dzubyan dan bani Abbas. Zuhair bermukim dan berinteraksi dengan bani Ghatafan. Sehingga banyak mengalami enkulturasi. Terutama dalam syairnya. [18]


Bani Dzubyan dan bani Abbas adalah dua kabilah yang bertetangga. Hubungan diantara mereka terjalin sangat baik, hingga akhirnya perselisihan itu berawal dari perbuatan Warad bin Habis, bani Abbas, membunuh Harim bin Damdam. Saudaranya, Husein bin Damdam, mendengar kabar kematian tersebut membuat sebuah janji ; Ia tidak akan mencuci rambutnya hingga ia dapat membunuh Warad bin Habis. Husein bertemu dengan seorang laki-laki ia bertanya tentang nasab seseorang yang ada didepannya. Ketika nasab lelaki tersebut sampai ke Abbas, ia membunuhnya. Kabar tersebut berhembus ke bani Abbas, dan mereka ingin membalas dendam.

Harits yang mendengar kabar tersebut mengirimkan 100 unta beserta anaknya ke bani Abbas. Seiring membawa sebuah pesan perdamaian. Bani abbas diminta untuk memilih antara anaknya atau 100 unta. Apabila mereka memilih untuk mebunuh anaknya berarti perseteruan akan terus berlanjut. Adapun unta adalah diyah untuk kaumnya yang terbunuh dan sebagai tanda perdamaian . Bani Abbas memilih unta. [19]
Harits bin Auf adalah pemuka kaum yang juga masih keturunan bani Dzubyan.  Diriwayatkan Hasan bin Ali, Harits bin Auf meminang puteri Aus bin Haritsah, lamaran tersebut ditolak. Ketika Aus bin Haritsah menemui dengan istrinya, seorang keturunan bani abbas, istirnya bertanya : siapakah orang yang bertemu denganmu tadi? Aus menjawab : seseoarang yang berpura-pura bodoh dan melamar putri kita. Ia berkata demikian karna mereka masih berhubungan dengan bani abbas yang ketika itu masih bersiteru dengan bani dzubyan.

 Lalu istrinya bertanya : apakah engkau akan menikahi  puterimu? Aus menjawab : tentu, dengan seorang pemuka kaum. Lalu istrinya menjawab: bukankah Harits bin Auf adalah seoarang pemuka kaum. Istrinya kemudian berlapang dada dan meminta Aus bin Haritsah untuk  menerima  lamaran tersebut.

Aus bin bin Haritsah kembali menemui  Harits bin Auf. Puteri pertama dan kedua Aus menolak untuk menikah dengan Harist, hingga akhirnya Bahisah binti Aus, puteri bungsunya, bersedia untuk dijadikan istri. Melihat ketegangan yang terjadi antara bani Abbas dan bani Dzubyan, Bahisah binti Aus mensyaratkan perdamaian antara bani Dzubyan dan bani Abbas sebelum ia benar-benar menikah.  Harits bin Auf dalam mendamaikan diantara kedua kaum tersebut dibantu oleh  Harim bin Sanan. Pengorbanan keduanya unuk mendamaikan antara kedua kabilah tadi menghabiskan kurang lebih 3000 unta. [20]
Pengorbanan yang dilakukan kedua pemuka kaum ini, menjadi sorotan utama Zuhair dalam al-hauliyatnya.

Yang diawali dengan bait :

  أٌمن  أٌم أوفي دمنة لم تكلم #  بحومانة  الدراج  فالمتثلم                  
       
Dalam terjemah bebas dapat diartikan : “Apakah Ummu aufa meninggalkan serpihan kenangan dalam jejaknya di reruntuhan Haumanat Daraj dan Mutatsalim?”


Ummu aufa seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah istrinya. Sedangkan Haumanat Daraj dan Mutasalim adalah kedua tempat yang umumnya digunakan kabilah istrinya untuk bermukim. Dengan tradisi bangsa arab yang berpindah-pindah pemukiman, kedua tempat tersebut ketika itu hanya berisi puing-puing sisa peninggalan jejak kabilah. Syair diatas adalah ungkapan perasaannya terhadap ummu aufa, kerinduannya yang hanya bisa dinikmatinya dengan kenangan. Penyair pada zaman jahiliyah umumnya menggunakan syair –syair cinta dalam bentuk kerinduan ataupun pujian terhadap orang yang dicintainya sebagai pembukaan dalam syairnya sebelum masuk pada pembahasan inti. Penyair meyakini hal tersebut dapat dijadikan sebagai umpan untuk menyorot perhatian masa. Untuk menyempunakan syair tersebut tentu menyebutkan kenangan-kenangan yang pernah terjalin antara keduanya, baik tempat ataupun keadaan.


Setelah beberapa bait awal dari al-hauliyat ini sebagai pembuka, penyair memulai bagian inti yan diinginkannya yaitu memuji Harim bin Sanan dan Harits bin Auf.

سعي ساعيا غيظ بن مرة بعدما # تبزل ما بين العشيرة بالدم

“Keturunan Ghaydz bin Murroh berusaha untuk memperbaiki keadaan yang menumpahkan darah dari keduanya”

Yang dimaksud keturunan Ghaydz bin Murroh adalah Harits bin Auf dan Harim bin Sanan. Keduanya bila diambil nasabnya mereka akan bertemu di Ghaydz bin Murroh. Bait tersebut adalah permulaan bait yang memuji keduanya. Selain pujian terhadap kedua tokoh tersebut, al-hauliyat Zuhair juga berisi tentang ikatan janji perdamaian antara bani Abbas dan bani Dzubyan. Selain itu, ia juga menjabarkan perihal  perang, dan akibat buruk yang dibawanya. Serta petuah-petuah dan nasehat yang bijak.


Kecakapan Zuhair dalam syairnya membuat lawannya segan dan takut padanya. Harits bin Waqro, seorang keturunan Assad, pernah berusaha untuk menganiayanya. Ia mencoba merampas unta dan hamba-hambanya. Zuhair berjanji bila ia mengambil hewan dan hambanya, ia akan mengungkapkan penghianatan yang dilakukan bani Asad dalam perjanjian yang pernah dibuatnya. Ketakutan akan dibenci oleh kabilahnya memaksanya untuk mengembalikan unta dan hamba-hamba Zuhair. Begitulah peranan syair yang luar biasa dalam bangsa Arab. Seseorang  yang mulia biasa berubah menjadi hina dimata kaumnya dengan syair, begitu sebaliknya. [21]


Harim bin Sannan adalah seseorang yang hampir belum pernah dipuji sebelumnya. Setelah Zuhair menyebutkannya dalam al-Hauliyat ia menjadi sosok yang digaungi namanya, dituruti perintahnya bahkan terkenal di kabilah-kabilah lainnya. Begitu banyak syair Zuhair yang memuji Harim bin Sanan. Kedekatan antara keduanya membuat Harim tidak segan-segan selalu memberikan hartanya, untanya, hingga hambanya kepada Zuhair. Bahkan Umar bin Khatab pernah meminta bani Harim untuk melafalkan syair-syair pujian Zuhair untuk Harim bin Sanan. Ketika Umar ditanya Bani Harim, keistimewa dari syair tersebut, ia berkata : “Harim bin Sannan hanya memberikan sesuatu yang telah punah, tapi Zuhair membalasnya dengan sesuatu yang tidak akan punah”.


Kendati Zuhair bermukim dengan Bani Dzubyan yang menyembah al-uzzah,[22] zuhair mempunyai keyakinan tersendri perihal agama. Ia meyakini akan ada nabi yang diutus, dan ia juga mengimani Allah maha melihat dan janji Allah pasti terjadi. Hal itu diutarakan dalam syairnya:

فلا  تكتمن   الله  ما  في  نفوسكم  #   ليخفى,  و مهما يكتم  الله  يعلم
يؤخر, فيوضع في كتاب, فيدخر  #   ليوم الحساب, أو يؤجل ,فينقم



D. Syair Zuhair dalam al-Mu’alaqat

Al-mu’alaqat adalah kumpulan syair-syair pilihan dari penyair yang cakap. Syair-syair ini kemudian didendangkan di ka’bah, sebagai apresiasi atas keindahan dan kecakapan penyair dalam menyusunnya. Sering diperdengarkan membuat bangsa Arab mudah menghapala Al-mu’alaqat,[23]. Hammad, seorang ahli riwayat Daulah Umawiyah, sosok pertama yang mengumpulkan kembali Al-mu’alaqat.

Beberapa perbedaan antara para tokoh perihal al-mu’alaqat :Pertama, Perbedaan jumlah dan anggotanya, Abu Zaid Al-Qursyi menyebutkan mereka berjumlah 7 orang diantaranya:  Imraul Qais, Zuhair bin Abi Sulma, Labid bin Rabiah, Amru bin Kaltsum, Tharafah bin Abd, dan Harits bin Hilizah. Sedangkan Abu Ja’far al-Nuhas  mengatakan bahwa mereka berjumlah 9 dengan menambahkan Abid bin Abrash dan Al-A’sya. [24] Kedua, Pebedaan pendapat perihal penulisannya hingga penggantungannya sebagai penutup ka’bah. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa al-mualaqat ditulis dengan tinta emas, bahkan digantung di dinding ka’bah. Pendapat tersebut ditolak oleh Abu Ja’far menolak perihal penggantungannya di dinding ka’bah. Meski ada beberapa tokoh yang mengamini penggantungannya, akan tetapi mereka berselisih mengenai tempat penggantungannya. Al-mu’alaqat tidak digantung di dinding ka’bah akan tetapi di lemari kerajaan.


Meski banyak perbedaan perihal al-mu’alaqat,  para penyair dan ahli riwayat menyepakati diantara 3 penyair paling unggul adalah Imraul Qais, Zuhair bin Abi Sulma, dan Nabighah Dzibyan. Selanjutnya, perbedaan sosok yang lebih unggul, dari yang lain, diantara ketiga penyair ini terus berlanjut.
Imraul Qais adalah Handaj  bin Hajar bin Harits bin Umar bin Hajar bin Amru bin Muawiyah bin Tsaur bin Murrah. [25] Diantara panggilannya adalah Dzu al quruh dan Imraul Qais.  Kehidupannya bergelimang harta telah melenakannya. Ia selalu berfoya-foya dan bersenang-senang dengan sahabatnya. Ayahnya adalah seseorang yang memegang kepercayaan untuk memimpin daerah yang  ditempati Bani Asad. Sosok pemimpin yang kejam, hingga akhirnya bani Asad memberontak dan membunuhnya.

 Ketika itu Imraul Qais sedang dalam pelarian karena tidak mengindahkan perintah ayahnya. Dalam perlariannya, ia berpindah dari satu kabilah ke kabilah lain hanya untuk bersenang senang. Ketika ia masih meminum arak bersama teman-temannya, ia mendapatkan kabar kematian ayahnya. Ia lalu bersumpah untuk tidak mencuci rambutnya hingga dapat membalaskan dendamnya. Berbasis kesenangan dan hobinya untuk bermain kuda. Selain syair-syair berupa ancaman, ia juga pandai mendeskripsikan baik hewan ataupun manusia.  Imraul Qais terkenal dengan syair deskriptif etik.

Untuk membalaskan dendamnya ia meminta bantuan pada kabilah-kabilah arab. Minimnya bantuan dari mereka membuatnya lari meminta bantuan hingga kostantinopel. Karna lelihaiannya dalam syair, raja kostantinopel  mengirimkan pasukan dalam jumlah besar untuk membantunya. Akan tetapi sebelum sempat membalaskan dendamnya ia sakit dan wafat dalam perjalanan tersebut.[26]

Ziyad bin Muawiyah bin Dibab bin Jinab bin Yarbu’ bin Murrah bin Auf bin Saad bin Dzubyan bin Raits bin Ghatafan bin QaisAyalan bin Mudlar.[27] Panggilannya adalah Abu Yamamah dan Nabighah. Perbedaan pendapat perihal sebab pemanggilannya. Diantaranya menyebutkan karna salah satu syairnya dan lainnya memberikan alasan karna kepandaiannya dalam menyusun Syair.

Nabighah dengan kelihaiannya dalam bertutur kata mudah berinteraksi terutama dengan para raja. Kedekatannya dengan Nu’man bin Mundzir, seorang raja, membuat kehidupannya bergelimang harta dan kemewahan. Kedekatan tersebut mengundang kecemburuan, hingga muncullahadu domba antara keduanya. Diantara hasutan yang  dibisakan ke Nu’man bin Mundzir adalah perasaan Nabighah terhadap istrinya. Hal ini membuatnya marah, dan berjanji untuk membunuh Nabighah.

Nabighah yang mengetahui hal tersebut menyelamatkan diri. Ia melarikan diri ke kabilah bani Ghasan. Ia kembali dekat dengan pemuka kaum tersebut, yaitu Amru bin Harits. Meski ia selalu bermukim dengan Amru, ia tidak melupakan sahabat lamanya. Dalam beberapa syairnya ia masih selalu mengagungkan Nu’man dan  memohon maaf darinya. Nabighah terkenal dengan syair-syair yang berisi pujian.
Epilog

Diantara ketiga tokoh yang disebutkan diatas, Qudamah bin Musa dan Ahnaf bin Qais mengedapankan Zuhair dari yang lainnya. Akan tetapi Jahidz lebih mengutamakan Nabighah daripada Zuhair. Jahidz berpendapat bahwa proses yang dibutuhkan Zuhair untuk melahirkan syair adalah masa yang terlalu lama. Demikian juga syair-syairnya yang tidak pernah didendangkan diantara para raja-raja bangsa arab. Berbeda dengan Zuhair yang syairnya selalu diperdengarkan di pesta-pesta dan perkumpulan Raja. [28]

Diantara sosok yang mengagumi Zuhair adalah Sayidina Umar bin Khatab. Dalam perjalanan ke Jabiyah ia meminta Ibnu Abbas untuk diperdengarkan syair Zuhair. Ketika ibnu Abbs menanyakan kenapa ia menyebutnya sebagai Syair Syuara, Sayidina Umar menjawab : “Dia (zuhair) tidak berkepanjangna bagai agam, menghindari penggunaan kata-kata kasar, dan hanya memuji yang patut dipuji...”. Sedang demikian Sayidina Ali bin Abi Thalib lebih menyanjung kehebatan Imraul Qais dalam mendeskripsikan lingkungannya. Pembahasan keunggulan sejatinya adalah nisbi.

Zuhair berumur hampir 100 tahun dan wafat 2 tahun sebelum nabi diutus menjadi Rasul. Sebelum wafat ia sempat bermimpi akan kedatangan seorang Rasul. Ia mewasiatkan kepada puteranya ketika saait itu tiba, mereka harus mengimaninya dan mematuhi ajarannya.


Daftar Pusaka :
1.       Bayan wa al-tabyin, Jahidz,Maktabah Al-Khaniji, Kairo.
2.       Rijal al-Mualaqat al-Asyr, al Ghalayibi Mustafa, Al-maktabah al-Asriyah, Beirut.
3.       Muhadlarah fi tarikh al-adab al-jahili, Nabawiyah, DR & Zakariya hamid abdul Fatah, DR, Universitas Al Azhar, Kairo
4.       Fi Nash Jahili,  Husein Firdaus Nur Ali,DR, dkk.Universitas Al-azhar, Kairo.
5.       Al-Mu’alaqat al-Asyr, al-Syanqity Ahmad Amin,Dar al-Kitab al-Arabi, Syiria.
6.       Syarh Diwan Zuhair , al-Tsa’lab Abu Abbas, Dar al-kitab al-arobi, Beirut.
7.       Al-Aghani , al-Asfahani Abu al-Farj,  Dar al-Kutub al-Masriyah, Kairo.
8.       Tarikh Adab al-Arab, Rafi’i Mustafa Shadiq,Maktabah  Al-Nasyir.
9.       Tarikh al-Adab al-Arab, Dyaif Syauqi, Daar al-Ma’arif, Kairo.
10.   Tarikh al-Adab al-Arab, Ziyat Ahmad Hasan,Dar al-Nahdah, Kairo
11.   Tabaqat al-Syuara, al-Jamahi Muhamad Ibnu Salam, Daarul al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut.
12.   Fushul Fi al-Adab al-Jahili, Darwis Muhjah Muhamad Kamil,DR, Al-Azhar University, Kairo.
13.   Qadaya fi Ilmu lughah, Abul Futuh Abdul Fatah, DR, Al azhar University, Kairo
14.   Al-Falsafah al-Lughawiyah wa al-Alfadz al-Arobiyah, Zaidan George, Dar al Hilal.

[1] Dipresentasikan oleh Dian Malinda, Mahasiswi Fakultas Dirasat Islamiyah Jurusan bahasa arab Universitas Al Azhar, Kairo.
[2] Muhamad Ibnu Salam al-Jamahi, Tabaqat al-Syuara, Beirut : Daarul al-Kutub al-Ilmiyah, 2001 hal :27
[3] Muhjah Muhamad Kamil Darwis, Fushul Fi al-Adab al-Jahili, hal 32
[4] Abu Abbas al-Tsa’lab, Syarh Diwan Zuhair , Daar al-kitab al-arobi, hal: 11
[5] Mustafa Al-Ghalayini, Rijal al-Mu’alaqat al-Asyr , al-Maktabah al Asriyah, Beirut, hal:134
[6] Abu Abbas al-Tsa’lab, Syarh Diwan Zuhair , Daar al-kitab al-arobi, hal: 14
[7] DR. Firdaus Nur Ali Husein , dkk. Fi Nash Jahili hal 111
[8] Mustafa Shadiq Rafi’i, Tarikh Adab al-Arab, Maktabah  Al-Nasyir, Cetakan pertama jilid II Hal 212
[9] George Zaidan, al-Falsafah al-Lughawiyah wa al-Alfadz al-Arobiyah, Dar al Hilal hal : 27
[10] DR Abdul Fatah Abul Futuh, Qadaya fi Ilmu lughah,
[11]George Zaidan, al-Falsafah al-Lughawiyah wa al-Alfadz al-Arobiyah, Dar al Hilal hal 59
[12] Ahmad Hasan Ziyat, Tarikh al-Adab al-Arab, dar al-Nahdah, Kairo  hal : 30
[13] Jahidz, Bayan wa al-tabyin, Maktabah Al-Khaniji, Jilid I, hal 9
[14] Ahmad Hasan Ziyat, Tarikh al-Adab al-Arab, hal : 30
[15] Mustafa Shadiq Rafi’i, Tarikh Adab al-Arab, Maktabah  Al-Nasyir, Cetakan pertama jilid II Hal
[16] Syauqi Dyaif, Tarikh al-Adab al-Arab, Daar al-Ma’arif, 2003, jilid I hal 300
[17] Al-hauliyat adalah nama yang diberi untuk syair Zuhair. Al-haul berarti setahun. Demikian karena Zuhair memerlukan waktu setahun untuk menyusun Syairnya.
[18] Mustafa Shadiq Rafi’i, Tarikh Adab al-Arab, Maktabah  Al-Nasyir, Cetakan pertama jilid II Hal
[19] Abu Abbas al-Tsa’lab, Syarh Diwan Zuhair , Daar al-kitab al-arobi, hal 26
[20] Abi al-Farj alAsfahani, Al-Aghani, Dar al-Kutub al-Masriyah, Kairo, jilid X hal 288
[21] Syauqi Dyaif, Tarikh al-Adab al-Arab, Daar al-Ma’arif, 2003, jilid I hal 310
[22] Periwayat berbeda pendapat perihal al-uzzah, diantaranya menyebutkan sebagai pohon, ada juga yang mengatakan al-uzzah adalah berhala disekitar ka’bah. Beberapa juga menyebutkan bahwa pohon-pohon yang mengelilingin berhala paling besar disekitar ka’bah.
[23] Mustafa al Ghalayibi, Rijal al-Mualaqat al-Asyr, Al-maktabah al-Asriyah, Beirut hal 59
[24] DR Nabawiyah & DR Zakariya hamid abdul Fatah, Muhadlarah fi tarikh al adab al jahili, hal 198
[25] Ahmad Amin al-Syanqity, Al-Mu’alaqat al-Asyr, Dar al-Kitab al-Arabi, Syiria, hal 2
[26] DR. Firdaus Nur Ali Husein , dkk. Fi Nash Jahili hal 33
[27] Ahmad Amin al-Syanqity, Al-Mu’alaqat al-Asyr, Dar al-Kitab al-Arabi, Syiria, hal 52
[28] Jahidz, Bayan wa al-tabyin, Maktabah Al-Khaniji, Jilid II hal 13

http://dee-pelita.blogspot.com/2012/06/zuhair-bin-abi-sulma.html

Tiada ulasan:

Catat Ulasan