.

Rabu, 17 April 2013

~Penyair Syair Jahili : Imru Al-Qais~



Selamat merajinkan diri utk membaca ! :D

Pembahasan



1. Imru’ al-Qays

Penyair ini memiliki nama lengkap Umru’ al-Qais bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi, dan berasal dari suku Kindah, yaitu suatu suku yang pernah berkuasa penuh di daerah Yaman. Karena itu, ia lebih dikenal sebagai penyair Yaman (Hadramaut). 

Kabilah ini adalah keturunan dari bani Harits yang berasal dari Yaman, daerah Hadramaut Barat. Mereka mendiami daerah Nejed sejak pertengahan abad ke-5 Masehi.

Nasab penyair ini sangat mulia karena dia anak seorang raja Yaman yang bernama Hujur al Kindy, raja dari kabilah bani Asad. 

Dari segi nasab ibunya penyair ini anak Fatimah binti Rabi’ah saudara Kulaib dan Muhalhil Taghlibiyah putra dari Rabi’ah, dua perwira arab yang amat terkenal dalam peperangan Al Basus (Zayyat, 1996:37).

Sejak kecil penyair ini dibesaran di Nejed dikalangan bangsawan yang gemar berfoya-foya. Mabuk dan bermain cinta, kemudian karna tingkah lakunya yang buruk dia diusir dari kerajaan. 

Dalam masa pengasingan dia mengembara ke jazirah arab untuk menghabiskan waktunya bersama kaum badui. ketika sampai daerah damun ia mendengar berita kematian ayahnya yang dibunuh oleh bani asad karena kediktatorannya.ia bersumpah :

ضيعني صغيرا, وحملني دمه كبيرا, ولاصحو اليوم ولا سكر غدا, االيوم خمر, وغدا أمر

“ ketika kecil aku disia-siakan bapakku, namun ketika aku besar aku harus menanggung balas dendam atas kematiaanmu. tidak ada kesadaran hari ini dan tidak ada mabuk besok, hari ini khomer besok adalah waktu balas dendam.”



2. Nabighah al-Zubyani.

Nama asli penyair ini Abu Umamah Ziyad ibn Muawiyah. Namun ia lebih dikenal dengan panggilan Nabighah sebab sejak muda pandai berpuisi. Penyair ini sangat dicintai oleh kabilahnya. 

Ia selalu berusaha mendekatkan dirinya dengan raja-raja dan orang-orang besar. Dan menjadikan puisinya sebagai alat yang paling ampuh untuk mendapatkan kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itu penyair ini sering dihasut lawannya.

Sebagian besar ahli sastra Arab mendudukkan puisi karya Nabighah pada deretan ketiga sesudah Imru Al Qays dan Zuhair ibn Abi Sulma. Hanya saja penilaian ini sangat relatif sekali karena setiap orang mempunyai pendirian masing-masing. 

Namun demikian karya puisinya sangat tinggi nilainya, karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam berpuisi.Oleh sebab itu tidak heran jika penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap perlombaan puisi tiap tahun di Pasar Ukaz.



3. Karya Imru’ al-Qays

Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa diantara puisi-puisi al-Mu’allaqat, puisi Umru’ al-Qais merupakan puisi yang paling terkenal dan menduduki posisi penting dalam khazanah kesusastraan Arab Jahiliyyah. 

Mu’allaqat Umru’ al-Qais merupakan peninggalan yang paling monumental yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan kesusastraan Arab pada masa-masa selanjutnya. Puisi-puisinya seringkali dipakai sebagai referensi dalam kajian ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharf, dan balaghah.

Orang yang mempelajari puisi karya Umru’ al-Qais dengan mendalam, maka akan ditemukan bahwa keindahan penyair ini terletak pada caranya yang halus dalam puisi ghazal-nya. Ditambah dengan gaya isti’arah (kata-kata kiasan dan perumpamaan). Sehingga banyak yang beranggapan bahwa ialah orang pertama yang menciptakan perumpamaan dalam puisi Arab. 

Walaupun terkadang puisi-puisinya juga tidak luput dari perumpamaan yang cabul, tetapi itu tidak mengurangi nilai dalam puisinya, karena bentuk kecabulannya itu tidak terlalu berlebihan, dan perumpamaan semacam itu merupakan kebiasaan dari para penyair Arab.

Secara garis besar bait-bait puisinya yang terkumpul dalam kasidah mu’allaqat-nya meliputi beberapa tema, antara lain:

Mengenai perpisahan seorang sahabat yang membekas dan memilukan, yang menyebabkan air mata bercucuran menyertai kepergiannya untuk mengembara.

Mengenang hari daratul jaljal sebagai cerminan kisah romantis.

Tema ini merupakan ungkapan cinta sejati yang tidak mungkin terlupakan. Dan konon tema inilah yang membuat Umru’ al-Qais terpilih menjadi penyair al-Mu’allaqat.

Mengenai senda gurau yang diibaratkan pertarungan dengan seorang pelacur.

Mengenai doa untuk kekasihnya Unaizah, sebagai persembahan cinta yang sejati.

Mengenai pertarungan untuk merebut idaman hati.

Menggambarkan malam dan waktu-waktu yang dilaluinya, serta kejadian-kejadian luar biasa yang dialaminya.

Mengenai penderitaan akan kegagalan.

Mengenai simbolisasi kuda dengan kecepatan yang luar biasa.

Mengenai pengibaratan pemimpin suku Badui dengan kilat dan hujan, sedangkan pengikutnya dengan jurang yang dalam dan pegunungan yang tinggi.

Syi’r Imru al-Qais menggambar keindahan Unaizah (kekasihnya) dalam bait Syi’rnya seperti di bawah ini:

فَلَمَّا أَجَزْنَا سَاحَةُ الحَيِّ وَ انْتَحَى بِنَا بَطْنُ خَبْْتٍ ذِى حِقَافٍ عَقَنْقَلِ
هَصَرْتُ بِفَوْدَىْ رَأْسِهَا فَتَمَايَلَتْ عَلَىَّ هَضِيْمَ الكَشْحِ رَياَّّ المُخَلْخَلِ
مُهَفْهَفَـةٌ بَيْضَـاءُ غَيْرُ مُفَاضَةٍ تَرَائِبـُهَا مَصْقُوْلَةٌ كاَلسَّجَنْجَـلِ
وَجِيْدٍ كَجِيْدِ الرِّئْمِ لَيْسَ بِفَاحِشٍ إِذَا هِـيَ نَصَّتـْهُ وَلاَ بِمُعـَطَّلٍ
وَ فَرْعٍ يَزِيْنُ الْمَتْنَ أَسْوَدَ فَاحِمٍ أَثِيـْثٍ كَقَنْـوِ النَّخْلَةِ الْمُتَعَثْكِلِ

Ketika kami berdua telah lewat dari perkampungan, dan sampai di tempat yang aman dari intaian orang kampung

Maka kutarik kepalanya sehingga Ia (Unaizah) dapat melekatkan dirinya kepadaku seperti pohon yang lunak

Wanita itu langsing, perutnya ramping dan dadanya putih bagaikan kaca

Lehernya jenjang seperti lehernya kijang, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun, karena lehernya dipenuhi kalung permata
Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang kurma. (Al-Zauziny, 16-17 dan Al Muhdar, 1983: 48).

Imru al-Qais menggambarkan kudanya dengan ungkapan yang begitu indah;

وَقَدْ أَغْتَدِى وَالطَّيْرِ فِى وُكُنَاتِهَا بِمُنْجَرِدٍ قَيْدِ, الأَوَابِدِ, هَيْكَلِ
مُكِرٍّ مُفِرٍّ, مُقْبِلٍ, مُدْبِرٍ مَعًا كَجَلْمُوْدِ صَخْرٍ حَطَّهُ الِسيْلِ مِنْ عَلِ
يَزِلُّ الغُلاَمُ الجِفُّ عَنْ صَهَوَاتِهِ وبلْوى بِأَنْوَابِ العَنِيْفِ المُثَقَّلِ
لَهْ أيْطَلاَ ظَبْى, وَسَاقَا نَعَامَةٍ وَإِرْخَاءِ سِرْحَانٍ, وَتَقْرِيْبُ تَنْفَلِ

Pagi-pagi aku sudah pergi berburu saat itu burung-burung masih tidur disangkarnya

Mengendarai kuda yang bulunya pendek besar larinya cepat mampu mengejar binatang buas yang sedang berlari kencang

Maju dan mundur bersamaan secepat kilat seperti hanya satu gerakan

Seperti batu besar yang runtuh terbawa banjir dari tempat tinggi
Pemuda yang kurus akan kesulitan duduk di pelananya

Sebagaimana orang yang kasar dan besar juga akan kerepotan merapikan bajunya

Pinggangnya seperti pinggang beruang, kakinya panjang dan keras seperti kaki burung Unta

Kalau berlari ringan seperti larinya kijang, apabila berlari kencang mengangkat kedua kaki depannya bagai larinya serigala liar (Mursyidy, t.t.: 75-77).



D. Karya Nabighah al-Zubyani

An-Nabighah mempunyai diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh Batholius (Ibnu Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun antologi puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya. Di antara puisinya yang paling indah adalah yang terdapat di dalam mu’allaqat-nya yang bait bait pertamanya berbunyi:

عوجوا فحيوا لنعم دمنة الدار ¤ ماذا تحيون لوى وأحجار
أقوى وأقفز من نعم وغيره ¤ هوج الرياح بهلبى الترب موار
وقفت فيها سراة اليوم أسألها ¤ عن آل نعم أمونا عبر أسفار
فاستعجمت دار نعم ما تكلمنا ¤ والدار لو كلمنا ذات أخبار

“Berhentilah kalian untuk menyapa, menyalami, sungguh indah reruntuhan perkampungan, apa yang kalian salami adalah timbunan tanah dan bebatuan”

“Tanah lenggang, sepi dari binatang liar, dan telah diubah oleh hembusan badai serta hujan yang datang dan pergi”

“Aku berdiri di atasnya, ditengah reruntuhan dan bertanya kepadanya tentang serombongan unta yang biasa lewat di sana”

“Reruntuhan rumah yang indah , demikian asing, membisu tak mau berbicara pada kami, dan reruntuhan rumah itu, andai ia mau berbicara pada kami, pasti ia punya banyak cerita”

Di antara kata-katanya yang paling bagus dalam puisi i’tidzar-nya seperti yang terdapat di bawah ini:

أتانى (أبيت اللعن) أنك لمتنى ¤ وتلك التى أهتم منها وأنصب
فبت كأن العائدات فرشن لى ¤ هواسا به فراشى ويقشب
حلفت فلم أترك لنفسك ريبة ¤ وليس وراء الله للمرء مذهب
لئن كنت قد بلغت عنى جناية ¤ لمبلغك الواشى أغشى وأكذب
ولكننى كنت امرءا لى جانب ¤ من الأرض فيه مستراد ومهرب

“Telah sampai berita padaku tentang abaital la’ni bahwa engkau mencercaku, itulah yang membuat penting dan aku menjadi sangat lelah” “semalaman, seakan para pembesuk menjengukku, menebar duri-duri tajam di atas tempat tidur dan menusuk-nusukku”

“Aku bersumpah tidak akan meninggalkan keraguan pada dirimu. Setelah Allah, bagi seseorang tidak ada lagi tempat kembali”

“Jika berita mengenai dosa yang aku lakukan telah sampai padamu, yang menyampaikan berita padamu itu, sungguh penjilat yang paling jahat dan paling dusta”

“Tetapi aku adalah orang yang memiliki tempat yang lain di bumi, di mana aku mengais rizqi dan tempat melarikan diri”

وأنت كالدهر مبثوثا حبائله ¤ والدهر لا ملجأ منه ولا هرب
أضحت خلاء وأضحى أهلها احتملوا ¤ أخنى عليها الذى أخنى على لبد
نبئت أن أبا قابوس أوعدنى ¤ ولا قرار على زأر من الأسد
فلو كفى اليمين بغتك خونا ¤ لأفردت اليمين عن الشمال

“Engkau bagaikan sang masa, terbentang luas tali-tali kasihnya. Sang masa, tak ada tempat berlindung dan tempat melarikan diri selainnya”

“Sahara menjadi lengang, penduduknya memikul beban, yang menghancurkan Lubad telah dihancurkannya”

“Aku mendapat berita bahwa Abu Qabus mengancamku, tapi dalam auman singa tak ada yang pasti”

“Jika golongan kanan cukup menimbulkan kebencianmu, karena berkhianat. Sungguh aku sendiri dari golongan kanan yang berasala

Syi’r Nabighah yang terkenal dengan Syi’r i`tidzariyatnya, memohon maaf kepada raja Nu`man.

وَ لَكِنَّنِى كُنْتُ امْرَأً لِىَ جَانِبٌ مِنَ الأَرْضِ فِيْهِ مُسْتَرَادٌ وَ مَذْهَبُ
مَلُوْكٌ وَ إِخْوَانٌ إِذَا مَا أَتَيْتَهُمْ أُحَكَّمُ فِي أَمْوَالِهِمْ ، وَ أَقْرَبُ
كَفِعْلِكَ فِي قَوْمٍ أَرَاكَ اصْطَنَعْتَهُمْ فَلَمْ تَرَهُمْ فِي شُكْرِ ذَلِكَ أَذْنَبُوْا
فَلاَ تَتْرُكَنِّى بِالوَعِيْدِ، كَأَنَّنِى إِلَى النَّاسِ مَطْلِىٌ بِهِ القَارُ أَجْرَبُ
أَلمَْ تَرَ أَنَّ اللهَ أَعْطَاكَ سُوْرَةً تَرَى كُلَّ مَلْكٍ دُوْنَهَا يَتَذَبْذَبُ
فَإِنَّكَ شَمْسٌ، وَ المَلُوْكُ كَوَاكِبٌ إِذَا طَلَعَتْ لمَ يَبْدُ مِنْهُنَّ كَوْكَبُ
وَ لستَ بِمُسْتَبْقٍ أَخًا لاَ تَلمُّهُ عَلَى شَعَثٍ، أَى الرِّجَالِ المُهَذِّبُ؟

Tetapi sesungguhnya aku adalah orang yang punya tempat alternatif lain

Di bumi di mana aku mengais rizki dan tempat melarikan diri
Yaitu para raja dan teman-teman, yang jika aku datang pada mereka
Aku bisa menggunakan harta mereka semauku, 

dan mendekatkan diri
persis seperti apa yang kamu lakukan pada kaum yang kamu beri berbagai limpahan dan ternyata ketika mereka tidak bisa bersyukur, maka hal itu bagimu mereka telah berdosa

Jangan kau biarkan aku dalam ancamanmu, sehingga karena ancamanmu
aku seolah-olah dilumuri ramuan kudis, semua orang menjauh dariku karena takut ancamanmu

Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menganugerahkan kepadamu kedudukan yang tinggi, yang raja-raja selain kamu tidak mampu menyandangnya.

Kamu adalah matahari sedang raja yang lain adalah bintang
Apabila matahari terbit maka bintang-bintang yang lain tidak mampu menunjukkan diri.

Kamu tidak mungkin menemukan saudara yang tidak kamu cela karena kesalahan kecil.

Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela (Mursyidi, t.t.: 95-97).



E. Analisis

Imru Al-qays adalah tokoh sastra arab pra islam yang menduduki peri ngkat pertama yang terkenal dengan keindahan puisi-puisinya dan kehalusan bahasanya dalam menggambarkan keadaan, benda atau prasaan yang ingin dia ungkapkan. Karena keindahan gaya bahasa yang dgunakannya puisi-puisi imru Al-qais seringkali digunakan sebagai refrensi ilmu nahwu, sharaf dan balaghah.

#Terima Kasih Kepada Sakinah SK kerana memberi maklumat dan semua yang terlibat.

2 ulasan:

  1. Assalamu Alaikum Wr. Wb. saya mau tanya, musik dari blog ini judulnya apa??? soalnya enak di dengar...

    BalasPadam
  2. Assalaamu'alaikum..
    makasih Gan ats Infonya..

    kunjung balik, ya.. hehe
    salam sukses
    by. vsipusat.blogspot.com

    BalasPadam